Followers

Recent Posts

selamat datang ke http://aku-ash.blogspot.com/ "dunia ini untuk kita aje"

Thursday, July 26, 2012

Kenali Ulama: Imam Al-Tirmidzi

Ahli hadits bermata buta tapi mampu mengintegrasikan hadits dengan fiqh
Nama Imam al-Tirmidzi amat panjang, yakni Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin al-Dhahhak al-Sulami al-Dharir al-Bughi al-Tirmidzi. Beliau dilahirkan pada tahun 209 H di desa Tirmidz, sebuah kota kuno yang terletak di pinggiran sungai Jihon (Amoderia), sebelah utara Iran.
Imam al-Tirmidzi merupakan figur yang cerdas, tangkas, cepat hafal, zuhud, juga wara'. Sebagai bukti kerendahan pribadi, beliau senantiasa mencucurkan air mata, sehingga kedua bola matanya memutih yang berdampak kebutaan pada masa tuanya. Dengan adanya musibah kebutaan inilah beliau juga disebut al-Dharir (yang buta).

Tentang sejak kapan terjadinya musibah kebutaan kedua mata Imam al-Tirmidzi, banyak terjadi silang pendapat. Ada sebagian yang menyatakan beliau buta sejak lahir, sementara ulama yang lain menyatakan ketika usianya mulai senja. Tapi mayoritas ulama sepakat, beliau tidak buta sejak lahir, melainkan musibah itu datang belakangan. Yusuf bin Ahmad al-Baghdadi menuturkan, “Abu Isa mengalami kebutaan pada masa menjelang akhir usianya.”

Pengembaraan Ilmiah• Sejak usia dini, Tirmidzi sudah gemar mempelajari dan mengkaji berbagai disiplin ilmu keislaman, baik fiqh maupun hadits. Dalam rangka mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu inilah, beliau harus mengembara ke berbagai wilayah Islam. Tirmidzi tercatat pernah mengembara ke Khurasan, Iraq, dan Hijaz.
Ada sebuah asumsi yang menyatakan, beliau tidak pernah singgah di Baghdad. Seandainya beliau pernah singgah di sana, niscaya beliau akan berguru pada Sayyid al-Muhadditsin Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241) H). Dan sejarah tidak mencatat bahwa Imam al-Tirmidzi pernah mengambil hadits dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam lawatannya itu, Tirmidzi banyak mengunjungi ulama-ulama besar untuk mendengar hadits yang kemudian dihafal dan dicatat untuk kemudian dikumpulkan dalam sebuah kitab yang tersusun secara sistematis. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakan secara efektif.
Selama perjalanan pengembaraannya, Imam al-tirmidzi belajar dari banyak guru. Di antaranya: Ziyad bin Yahya al-Hassani (wafat 254 H), Abbas bin Abd al-`Adhim al-Anbari (w 246), Abu Said al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi (w 257), Abu Hafsh Amr bin Ali al-Fallas (w 249), Ya`qub bin Ibrahim al-Dauraqi (w 252), Muhammad bin Ma`mar al-Qoisi al-Bahrani (w 256), dan Nashr bin Ali al-Jahdhami (w 250 H).
Imam-imam di atas, selain tercatat sebagai guru-guru Imam al-Tirmidzi, juga tercatat sebagai guru Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam al-Nasai, dan Imam Ibn Majah. Dan hanya sembilan guru inilah yang masing-masing menjadi guru Imam Hadits yang enam.
Selain berguru kepada imam di atas, Imam al-Tirmidzi sebelumnya juga memiliki beberapa guru, antara lain; Abdullah bin Muawiyah al-Jumahi (w 243), Ali bin Hujr al-Marwazi (w 244), Suwaid bin Nashr bin Suwaih al-Marwazi (w 240), Qutaibah bin Said al-Tsaqafi Abu Raja (w 240), Abu Mush`ab Ahmad bin Abi Bakr al-Zuhri al-Madani (w 242), Muhammad bin Abdul al-Malik bin Abi al-Syawarib (w 244), Ibrahim bin Abdullah bin Hatim al-Harawi (w 244), dan Ismail bin Musa al-Fazari al-Suddi (w 245). Tirmidzi juga belajar kepada Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud.



Murid-murid Imam al-Tirmidzi

Karena kehebatannya dalam disiplin ilmu hadits, tak pelak lagi, banyak orang yang ingin menyerap dan mengkaji kedalaman pengetahuannya dengan menjadi muridnya. Mereka yang tercatat mengambil hadits dari Imam al-Tirmidzi di antaranya: Makhul bin al Afdhal, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Abd bin muhammad al-Nafsiyyun, al-Haisam bin Kulaib al-Syasyi, dan Ahmad bin Yusuf al-Nasafi. Dan yang terpenting adalah Abi al-Abbas al-Mahbubi Muhammad bin Ahmad bin Mahbub al-Marwazi (w 346) yang meriwayatkan karya terbesar Imam al-Tirmidzi, Jami' al-Tirmidzi.


Imam al-Tirmidzi merupakan sosok manusia yang shalih, taqwa, wara', zuhud, dan yang tak kalah pentingnya, kekuatan hafalannya diakui oleh para ulama. Abdurrahman bin Muhammad al-Idrisi menuturkan, “Muhammad bin Isa bin Saurah al-Tirmidzi al-Dharir adalah seorang imam dalam ilmu hadits yang pendapatnya banyak dirujuk para ulama. Beliau mengarang kitab al-Jami', al-Tawarikh (sejarah), dan al-UIlal. Sosok yang alim lagi brilian (cemerlang) ini diakui kekuatan hafalannya.”

Al-Hakim Abu Ahmad menukil dari gurunya, Ahmad, “Ketika Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari meninggal, ia tidak meninggalkan seorang ulama yang menjadi penggantinya di Khurasan selain Imam al- Tirmidzi yang dalam pengetahuannya, luhur dalam ke-wara'-an dan kezuhudan. Imam al-Tirmidzi senantiasa menangis sehingga beliau menjadi buta pada tahun-tahun terakhir.”


Abu Ya'la al-Khalili pernah menuturkan bahwa Tirmidzi merupakan figur penghafal dan ahli hadits yang mumpuni dan telah diakui oleh para ulama. Beliau mempunyai kitab al-Jami' dan al-Jarh wa al-TaUdil. Ia dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya, dan sebagai ulama yang menjadi panutan, serta berpengetahuan luas. Kitab Jami'-nya al-Tirmidzi merupakan bukti nyata atas keagungan reputasinya tentang hadits.
Semua ini membuktikan bahwa sosok Tirmidzi memang pantas mendapat sanjungan. Namun demikian, ternyata ada sementara ulama yang menganggap bahwa Imam al-Tirmidzi merupakan sosok yang tidak diketahui asal-muasal dan jatidirinya (majhul al-hal), sehingga --secara otomatis-- periwayatannya ditolak begitu saja. Pandangan seperti inilah yang antara lain dilontarkan
Imam Ibn Hazm al-Dhahiri.
Statemen Ibn Hazm al-Dhahiri yang cukup kontroversial dan bertolak belakang dengan pandangan mayoritas ulama ini telah membuat geger, terutama di lingkungan ulama hadits. Bahkan Ibn Hazm banyak mendapat kecaman, antara lain datang dari Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib. Dalam kitab itu sikap Ibn Hazm al-Dhahiri dianggap sebagai satu wujud kesombongan terhadap kedudukan para ulama yang telah masyur.

Imam al-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, mengatakan, “Al-Tirmidzi adalah al-hafidh (ahli hadits) yang kondang, penulis kitab al-Jami' terpercaya dan disepakati periwayatannya.” Sedangkan pandangan Ibn Hazm al-Dhahiri tentang kemajhulan Tirmidzi disebabkan ia tidak mengenal dan mengetahui pribadi Tirmidzi beserta hasil-hasil karyanya, seperti al-Jami' dan al- Ilal.
Sementara itu, Ibn Katsir dalam karyanya al-Bidayah wa al-Nihayah menuturkan, “Pandangan Ibn Hazm tentang kemajhulan al-Tirmidzi tidak akan mengurangi keunggulannya. Sikap ini tidak akan merendahkan pribadi al-Tirmidzi di kalangan para ulama. Bahkan sebaliknya akan menurunkan derajat Ibn Hazm sendiri dalam pandangan para ulama.”



Komentar ulama

Sebagai ulama yang berpengetahuan luas, Imam al-Tirmidzi telah berhasil menyusun beberapa buah kitab, antara lain: al-Jami' al-Shahih (Jami al-Tirmidzi atau Sunan al-Tirmidzi), al-Syamail al-Nabawiyyah, al-UIlal, al-Tarikh, al-Zuhd, al-Asma wa al-Kuna.

Karya Imam al-Tirmidzi yang sangat monumental adalah kitab al-Jami al-Shahih atau Jami al-Tirmidzi, ada juga yang menyebutnya Sunan al-Tirmidzi. Namun, tampaknya para ulama lebih banyak menggunakan istilah al-Jami' ketimbang Sunan.


Banyak komentar ulama yang mengagungkan karya besar Imam al-Tirmidzi ini. Al-Hafidh Abu al-Fadhl al-Maqdisi mengatakan, “Aku mendengar Imam abu Ismail Abdullah bin Muhammad al-Anshari berkata `Menurutku, kitab Jami' al-Tirmidzi lebih bermanfaat ketimbang kitab Shahih karya al-Bukhari dan Muslim, karena kedua kitab Shahih karya al-Bukhari dan Muslim ini kurang dapat dipahami kecuali oleh orang yang mempunyai pengetahuan mendalam. Sementara kitab Jami' al-Tirmidzi dapat bermanfaat bagi semua orang, karena ia sekaligus mensyarahi (menjelaskan) maksud dari hadis-per hadis.“
Abu Ali Manshur bin Abdullah al-Khalidi menuturkan bahwa al-Tirmidzi berkata, “Setelah selesai disusun, kitab ini aku perlihatkan kepada ulama-ulama Hijaz, Iraq dan Khurasan. Mereka semua menerimanya. Maka siapa yang menyimpan kitabku ini di rumahnya, seolah-olah di dalam rumah itu ada seorang Nabi yang selalu berbicara.”


Al Hafidh Ibn al-Katsir menuturkan, “Ini adalah kitab Imam al-Tirmidzi yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya, paling bagus susunannya, dan paling sedikit pengulangannya. Di dalamnya terdapat sesuatu yang tidak dijumpai di dalam kitab lain, berupa penyebutan mazhab-mazhab, segi-segi pengambilan dalil (istidlal), dan macam-macam hadits dari yang shahih, hasan, dan gharib. Di dalamnya juga dijelaskan tentang jarh dan ta'dil (evaluasi negatif dan positif atas rawi-rawi hadits).”

komentar-komentar ulama di atas itu cukup untuk dijadikan sebagai bukti tentang keunggulan karya Imam al-Tirmidzi ini.


Ada juga sebagian ulama yang mengkritik beberapa hadits yang dicantumkan oleh al-Tirmidzi dalam kitabnya itu dengan alasan bahwa hadits-hadits itu palsu. Kritikan seperti ini pernah dilontarkan oleh ahli hadits Imam Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu'at. Kritikan serupa juga pernah dilontarkan oleh Imam Ibn Taimiyah beserta muridnya, Imam al-Dhahabi. Hadits yang diduga palsu sebanyak 30 buah. Hanya saja, vonis palsu yang dialamatkan padanya telah disanggah dan ditepis oleh Jalal al-Din al-Suyuti, seorang pakar hadits dari Mesir yang hidup pada abad IX H.


Kiranya perlu kita ketahui bersama bahwa hadits-hadits yang dikritik karena diduga palsu hanyalah hadits yang menyangkut fadlail al-a'mal (keutamaan amal). Apabila pengkritik memandangnya sebagai hadits palsu, maka Imam al-Tirmidzi sendiri tidak memandang demikian. Sebab, hampir semua ahli hadits, termasuk Imam al-Tirmidzi, tidak mau meriwayatkan hadits palsu yang telah diketahui kepalsuannya secara nyata.



Integrasi HadiTs-Fiqih

Sebelum munculnya Imam al-Tirmidzi, kualifikasi Hadis hanya terbagi menjadi Hadits Shahih dan Hadits Dhaif. Shahih adalah hadits yang antara lain diriwayatkan oleh rawi yang kuat hafalannya (dhabith), dan wajib diterima guna diamalkan. Sementara dhaif merupakan hadits yang antara lain diterima dari rawi yang mempunyai daya ingat lemah, dan periwayatannya harus ditinggalkan.
Dari sini, Imam al-Tirmidzi mempunyai pemikiran yang sangat brilian. Ketika suatu hadits diriwayatkan oleh rawi yang standar hafalannya di bawah rawi Hadits Shahih, namun masih unggul dibanding rawi Hadits Dhaif sehingga hafalannya dapat disebut `tidak kuat sekali, namun lemahpun tidak`, maka beliau mengkatagorikan periwayatan seperti ini kepada tingkat hasan. Oleh karenanya, Imam al-Tirmidzi-lah orang yang sangat berperan membagi hadits menjadi shahih, hasan, dan dhaif. Sebelum beliau tidak seorang ulamapun yang menyinggung-nyinggung tentang istilah hadits hasan. Dan ungkapan ini banyak sekali kita temukan dalam karya besar beliau.

Peran Imam al-Tirmidzi yang lain yang juga sangat penting adalah penyatuan antara paradigma hadits dan fiqh dalam satu kitab. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, sebagaimana kita ketahui, tidak menjadikan kitabnya sebagai ajang perbandingan antara berbagai mazhab fiqh. Kedua Imam Hadits itu hanya mencantumkan hadits-hadits semata, tanpa sedikitpun memberikan pen-syarah-an, apalagi menukil berbagai pendapat Imam mazhab. Berbeda dengan Imam al-Tirmidzi yang mengintegrasikan antara hadits dan fiqh. Hal inilah yang menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara kitab Jami' al-Tirmidzi dengan kitab-kitab hadits yang lain.

Kalau kita lihat, kitab Jami' al-Tirmidzi selalu menampilkan perbandingan pendapat antarmazhab. Perbandingan ini selalu di-bareng-kan tatkala beliau menuliskan sebuah hadits. Bahkan, karena banyaknya memuat perbandingan fiqh, kitab al-Tirmidzi ini nyaris terkesan sebagai kitab fiqh, bukan kitab hadits. Statemen seperti ini tidaklah berlebihan, mengingat setiap hadits selalu diperjelas melalui metode pemikiran fiqh.

Namun demikian, bukan berarti al-Tirmidzi merupakan figur sektarian, berpegang pada salah satu mazhab sebagaimana disalah pahami oleh sebagian ulama Mazhab Hanafi di mana beliau dianggap sebagai pengikut Mazhab Syafi'i. Semua itu merupakan pandangan yang keliru, karena beliau tidak terikat sedikitpun oleh salah satu mazhab, baik Hanafi, Maliki, Syafi'i, maupun Hambali. Beliau merupakan tokoh ynag hanya mengikuti Sunah-sunah Nabi saw, seorang mujtahid yang tidak ber-taqlid (mengikut) kepada siapapun.
Ketidakberpihakan Imam al-Tirmidzi pada salah satu pemikiran mazhab fiqh ini dapat dipahami dengan tidak adanya unsur pengunggulan terhadap salah satu pandangan mazhab di dalam kitabnya. Seandainya beliau berafiliasi pada Mazhab Syafi'i, niscaya beliau akan mendominasikan pandangan-pandangan Imam Syafi'i dalam karyanya. Begitu juga kalau beliau bermazhab Hanafi, Maliki, atau Hambali. Tapi ternyata hal seperti ini tidak pernah dilakukannya. Bahkan terkadang pandangan-pandangan mereka (para Imam Mazhab) juga mendapat kritikan dari al-Tirmidzi. Ini merupakan salah satu bukti bahwa pandangan beliau tidak sektarian.

Tutup Usia

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kapan tepatnya Imam al-Tirmidzi meninggal dunia. Al-Sam'ani dalam kitabnya al-Ansab menuturkan bahwa beliau wafat di desa Bugh pada tahun 275 H. Pendapat ini diikuti oleh Ibn Khallikan. Sementara yang lain mengatakan beliau wafat pada tahun 277 H.

Sedangkan pendapat yang benar adalah sebagaimana dinukil oleh al-hafidh al-Mizzi dalam al-Tahdzib dari al-Hafidh Abu al-Abbas Ja'far bin Muhammad bin al-Mu'taz al-Mustaghfiri yang mengatakan “Abu Isa al-Tirmidzi wafat di daerah Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab 279 H. Beliau wafat pada usia 70 tahun dan dimakamkan di Uzbekistan.“ Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah Swt menerima segala jerih payah beliau dalam menyebarluaskan Sunnah-sunnah Nabi saw.


Diambil dari Prof KH Ali Mustofa Yaqub, MA
p/s: maaf sebab dalam bahasa indonesia.:-)


Prof Ash: "checklist ibadah" a.k.a "jadual ibadah"

Assalamualaikum.haa...lama kita tak berjumpa ya.Maaf la Porf sibuk sangat kebelakangan ni( sibuk je memanjang dia ni..sibuk sampai berbulan-bulan..hmm)
ok la. Kali ini, bagi mengubat kerinduan korang dengan pandangan Prof, jadi prof nak berkongsi pandangan prof sikit berkenaan dengan "checklist ibadah" kita. Maklumlah kita sekarang berada di bulan mulia.Ramadhan al-Mubarak.

Baik lah..tahu  tak apa itu "checklist ibadah" ataupun dikenali sebagai "jadual ibadah"? Checklist ni adalah checklist untuk kita ketahui sejauh manakah ibadah kita seharian. Selalu kita tak pernah pun mencatat  aktiviti ibadah kita kan?Yang kita tahu, catat aktiviti kerja jeMalah tugas catatan ibadah ini, kita serahkan sepenuhnya kepada malaikat Rakib dan Atit. Kalu malaikat yang catat macam mana kita nk tengok balik catatan tu kan?Malaikat Rakib dan Atit tu bukan mcm PA kita yang buku catatan aktiviti tu dapat dirujuk kembali. Jadi jom kita buat checklist ini. Denga checklist macam ni.Baru lah kita dapat analisis ataupun muhasabah sejauh mana ibadah seharian kita kepada Allah.

Jadi sebagai panduan di sini prof nak share sikit senarai ibadah yang mana pada prof semua orang boleh buat ibadah yang mudah ini di bulan mulia ini.

1.Solat jemaah (subuh,zohor,asar,maghrib,isya)
Solat fardu 5kali sehari berjemaah sepatutnya pada bulan ramdhan ini kita lakukan dengan "full".Tapi  pasti ada akan tanya macam mana. Sebenarnya mudah je.

a) Solat subuh jemaah kita amat senang untuk lakukan bila bulan ramdhan menjelang sebab kita kena bangun untuk bersahur,jadi jangan la tidur balik selepas sahur.tahan mata tu kejap. lepas solat subuh jemaah baru sambung tidur.

b) Zohor pula takkan tak boleh kalau subuh boleh gsolat berjemaah.

c) Asar lak odw pergi ambil bubur lambuk dekat masjid tu, pergi la semayang sekali.Tak malu ke pergi ambil bubur lambuk di masjid untuk berbuka padahal solat asar jemaah pun tidak.Jangan jadi kufur sangat la kan.

d) Maghrib pula solat jemaah dengan adik ke.kakak ke.Di rumah spun still boleh bersolat berjemaah.Jadi tak ada sebab berbuka di rumah tidak boleh solat berjemaah

e) solat isya pulak confirm la solat berjemaah sebab adanya tarawikh.

#seandainya tidak mampu juga tidak menjadi masalah.tetapi pastikan solat subuh dan isya berjemaah.Prof pernah pergi kuliah seorang ulama ni, dia bagi tahu yang 2 solat ini amat tinggi darjatnya. 

2. Tarawikh 20 rakaat
Ini terpulang lah pada anda.Pada prof, prof akan berusaha juga untuk solat tarawikh 20 rakaat sebab solat tarawikh ni setahun sekali je bang kak oi. Tak berat pun. Tambah-tambah lagi bagi yang muda-muda.

3.Solat sunat duha.
Solat lah solat sunat duha kalau nak dimurahkan rezeki oleh Allah. Malah solat duha ni antara solat yang Rasulullah tak pernah tinggal.

4.Solat sunat Taubat
Manusia tak pernah lari dari kesilapan.Jadi solat sunat taubat perlu dijadikan amalan. Memohaon pada Allah agar Allah ampunkan dosa kita dan Allah buka hati orang yang pernah kita sakiti memaafkan kita. Disamping kita sudah memaafkan orang sekeliling kita.

5.Solat sunat hajat
Allah telah berfirman dalam quran yang bermaksud "Berdoalah kepadaku nescaya akan aku perkenankan."Ssebaiknya lakukan solat hajat ni selepas solat taubat sebab penghalang doa dikabulkan salah satunya adalah dosa kita yang menggunung.

6.solat syukur
Lepas tu solat la solat sunat syukur tanda bersyukurnya kita kepada Allah kerana telah mengurniakan kita nikmat iman dan islam. Malah Allah bagi kita perluang lagi untuk berada di bulan mulia ini. Ingat! Ummul mukminin Aisyah radiallahu'anha pernah meriwayatkan sebuah hadith yang mana Rasulullah pernah bersoalat malam hingga bengkak kaki baginda kerna baginda bersyukur kepada Allah. Kalau Rasulullah solat malam sebab bersyukur kepada Allah, takkan kita nak solat 2 rakaat tanda kesyukuran kita tak mampu kot kn.

7.zikir, istifardan selawat
Yang ni amat-amat lah mudah.zikir lah subhanallah,alhamdulillah, allahuakbar, lailahaillah, sebanyak 100 kali setiap satu. Amalan ni sangat mudah. Sambil-sambil driving pun boleh laksanankan. Selawat juga 100 kali sebagai tanda kasih kita pada Rasulullah yang membawa islam yang bukannya seperti yang bulat datang bergolek dan yang pipih dtg melayang. Rasulullah pertaruhkan nyawa baginda untuk kita. Lagi satu istiqfar 100 kali. Rasulullah beristifar 70 kali(a da pendapat kata 100 kali) sehari.So kalau, kita kena la 100 kali. Semua ni amat mudah nak laksanakan.Dalam masa 15 minit dah selesai.As I said before, while driving pun boleh.

8.Tadarus Al-quran.
Mudah dilakukan jika kita istiqamah plus berdisiplin. Kaedahnya seperti berikut:

2 helai selepas/sebelum subuh
2 helai selepas/sebelum zohor
2 helai selepas/sebelum asar
2 helai selepas/sebelum magrib
2 helai selepas/sebelum isya

jika dijumlahkan
1 waktu= 2 helai
1 hari=10 helai (bersamaan dengan satu juzuk)
1 bulan(30 hari)=30 juzuk

maka amat mudah untuk kita khatam setaip bulan bukan?Tambahan di bulan ramadhan ini yang tiada musuh utama manusia yang nyata.



Atas ini contoh checklist ibadah.Sapa2 yang nak softcopy boleh lah bagi email. :-) 

Sebar-sebarkan dan Selamat beramal~


Wednesday, July 25, 2012

Ustaz Ash:ADAB BERBUKA PUASA MENURUT SUNAH RASULULLAH S.A.W.



ADAB-adab berhubung ibadat mestilah merujuk kepada aja ran yang ditunjuk oleh Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w., iaitu al-Quran dan sunah. Ada sebahagian pihak yang cenderung mencipta adab-adab ibadah tanpa merujuk kepada dua sumber agung itu, misalnya dakwaan yang menyatakan makruh mandi terlalu kerap, atau mandi pada hampir waktu berbuka kerana ia boleh mengurangkan keletihan dan sekali gus menghilangkan kelebihan puasa.

Sedangkan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Mawata', Ahmad dan Abu Daud di dalam sunannya, Abu Bakar bin Abd al-Rahman meriwayatkan: "Telah berkata sahabat yang menceritakan kepadaku: "Aku melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala Baginda ketika Baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas."

Dengan itu Ibn Qudamah al-Maqdisi (meninggal 620H) menyatakan: "Tidak mengapa seseorang mencurahkan air ke atas kepalanya (ketika puasa) disebabkan panas atau dahaga kerana diriwayatkan oleh sebahagian sahabat bahawa mereka melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala Baginda ketika Baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas." (Ibn Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, 2/18, cetakan Dar al-Fikr, Beirut).

Yang penting di dalam bulan Ramadan ini adalah adab-adab yang kita kaitkan dengan ibadah puasa mestilah mempunyai asas yang boleh dipegang, iaitu al-Quran atau sunah.

Antara adab-adab berbuka puasa yang dinyatakan di dalam hadis:

1. Menyegerakan berbuka apabila masuknya waktu atau disebut ta'jil al-Iftar. Ini berdasarkan hadis-hadis yang menyebut perkara ini, antaranya: Daripada Sahl bin Sa`ad bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menerangkan punca kebaikan di dalam agama ialah mengikut sunah Nabi s.a.w., iaitu Baginda menyegerakan berbuka puasa. Ini menolak dakwaan ajaran-ajaran karut yang kononnya melewatkan berbuka menambah pahala. Kata at-Tibi (meninggal 743H): "Barangkali sebab Allah menyukai mereka yang bersegera membuka puasa, ialah kerana apabila seseorang berbuka puasa sebelum solat, membolehkannya menunaikan solat dengan dihadirkan hati. Juga ia menyanggahi ahli bidaah yang berpendapat wajib melewatkannya. (at-Tibi, Syarh Miskhat al-Masabih, 4/183, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Berut).


2. Berbuka puasa dengan rutab, atau tamar atau air. Rutab ialah buah kurma yang telah masak sebelum menjadi tamar kering, ia lembut dan manis. Adapun tamar ialah buah kurma yang sudah kering. (lihat: al-Mu'jam al-Wasit 1/8icon_cool.gif. Sekarang di negara kita rutab sudah mula dikenali. Ia kurma yang masak dan masih lagi belum kering dan mengecut. Apabila ia mengecut dipanggil tamar. Di dalam hadis daripada Anas katanya: Bahawa Rasulullah s.a.w. berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum bersolat. Sekiranya tiada rutab, maka dengan beberapa biji tamar, dan sekiranya tiada tamar, maka Baginda minum beberapa teguk air. (Riwayat Imam Ahamd dan Tirmizi, katanya hadis ini hasan) Al-Diya al-Maqdisi (meninggal 643H) telah mensahihkan hadis ini. (lihat: al-Ahadith al-Mukhtarah, 4/411 cetakan: Maktabah al-Nahdah al-Hadithah, Mekah).

Inilah tertib yang dilakukan oleh Baginda, pilihan pertama ialah rutab, jika tiada tamar dan jika tiada air. Kata al-Mubarakfuri (meninggal 1353H): Hadis ini menjadi dalil disunatkan berbuka puasa dengan rutab, sekiranya tiada, maka dengan tamar, dan sekiranya tiada, maka dengan air. Adapun pendapat yang menyatakan di Mekah disunatkan didahulukan air zam-zam sebelum tamar, atau mencampurkan tamar dengan air zam-zam adalah ditolak. Ini kerana ia menyanggahi sunah. Adapun Nabi telah berpuasa (di Mekah) banyak hari pada tahun pembukaan kota Mekah, namun tidak pernah diriwayatkan baginda menyalahi adat kebiasaannya mendahulukan tamar sebelum air. (al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwazi, 3/311, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut). Di samping itu, dakwaan jika tiada tamar, maka dengan buah-buahan yang lain juga tiada sebarang dalil daripada sunah Nabi s.a.w.


3. Menyegerakan solat Maghrib selepas berbuka dengan tamar atau air, sekiranya makanan belum dihidangkan. Hadis yang kita nyatakan di atas menunjukkan Baginda Nabi s.a.w. berbuka dengan rutab atau tamar atau air sebelum bersolat Maghrib. Maka kita disunatkan juga mengikuti langkah tersebut, iaitu selepas berbuka dengan perkara-perkara tadi, lantas terus menunaikan solat. Ini sekiranya makanan belum dihidangkan. Adapun sekiranya makanan telah dihidangkan di depan mata, maka dimakruhkan meninggalkan makanan untuk menunaikan solat. Ini berdasarkan apa yang dinyatakan dalam hadis-hadis baginda Nabi s.a.w. antaranya: Daripada Anas bin Malik r.a.: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Apabila telah dihidangkan makan malam, maka mulakanlah ia sebelum kamu menunaikan solat Maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain daripada Abdullah bin Umar, Baginda s.a.w. bersabda: Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan solat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gapah sehinggalah dia selesa. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Riwayat di atas juga menambah: Bahawa Ibn Umar r.a. apabila dihidangkan untuknya makanan, manakala solat pula sedang didirikan, maka beliau tidak mendatangi solat melainkan hingga beliau selesai makan, sedangkan beliau mendengar bacaan imam. Ini kerana meninggalkan makanan dalam keadaan keinginan yang kuat untuk menjamahnya atau dalam perasaan lapar, boleh menghilangkan khusyuk di dalam solat, disebabkan ingatan terhadap makanan tersebut. Dengan itu para ulama menyatakan dimakruhkan solat setelah makanan terhidang di hadapan mata. Kata an-Nawawi (meninggal 676H): Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk. (An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 4/208, cetakan: Dar al-Khair, Beirut).
Sebenarnya bukan pada makan malam atau solat Maghrib sahaja kita disunatkan mendahulukan makanan yang dihidang sebelum solat, bahkan sunah ini meliputi semua solat dan waktu makan kerana dibimbangi menghilangkan khusyuk. Ini sekiranya makanan telah terhidang di depan mata. Al-Munawi (meninggal 1031H) pula menyebut: "Hadis tersebut menyatakan hendaklah didahulukan makan malam sebelum solat Maghrib. Namun ia juga dipraktikkan juga pada solat-solat yang lain. Ini kerana punca arahan ini ialah bimbang hilangnya khusyuk. (al-Munawi, Faidh al-Qadir, 1/295, cetakan: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, Mesir).

Malangnya ada di kalangan yang kurang faham, lalu mereka menyatakan bahawa kalau azan sudah berkumandang, hidangan dan makanan hendaklah ditinggalkan demi mengutamakan solat jemaah. Inilah kedangkalan meneliti hadis-hadis Nabi s.a.w., lalu mengandaikan agama dengan emosi sendiri.

Adapun sekiranya makanan belum terhidang atau perasaan keinginan terhadap makanan tiada, maka tidaklah dimakruhkan untuk terus solat. Ini bukanlah bererti kita disuruh mementingkan makanan melebihi solat, sebaliknya tujuan arahan Nabi s.a.w. ini ialah untuk memastikan kesempurnaan solat. Al-Imam Ibn Hajar al-`Asqalani (meninggal 852H) memetik ungkapan Ibn Jauzi (meninggal 597H): "Ada orang menyangka bahawa mendahulukan makanan sebelum solat adalah bab mendahulukan hak hamba ke atas hak Tuhan. Sebenarnya bukan demikian, tetapi ini adalah menjaga hak Allah agar makhluk masuk ke dalam ibadahnya dengan penuh tumpuan. Sesungguhnya makanan mereka (para sahabat) adalah sedikit dan tidak memutuskan mereka daripada mengikuti solat jemaah. (Ibn Hajar al-`Asqalani, Fath al-Bari, 2/385, cetakan: dar al-Fikr, Beirut). 


4. Makan dengan kadar yang tidak berlebihan ketika berbuka. Ini bertepatan dengan firman Allah s.w.t. maksudnya: Dan makan dan minumlah kamu, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak suka orang yang berlebih-lebihan. (Surah al-`Araf:31).
Di dalam hadis Baginda s.a.w. menyebut: Anak Adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberikan kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak dapat, maka satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan. (Riwayat Tirmizi, katanya: hadis ini hasan sahih. Al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan hadis ini hasan).

Hadis ini salah difahami oleh sesetengah pihak, lalu mereka menyangka Nabi s.a.w. menyuruh umatnya jika makan, hendaklah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan. Sebenarnya jika kita teliti hadis ini bukan demikian, pembahagian tersebut ialah had maksimum. Kalau boleh kurang daripada itu. Sebab itu Baginda menyebut jika tidak dapat, maka tidak melebihi pembahagian tadi. Namun yang lebih utama digalakkan sekadar yang dapat memberi tenaga.

5. Berdoa ketika berbuka. Ini berdasarkan hadis Nabi s.a.w.: Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu, doa yang tidak ditolak ketika dia berbuka. (Riwayat Ibn Majah, sanadnya pada nilaian hasan dan ke atas. Ishaq bin 'Abd Allah al-Madani dithiqahkan oleh Abu Zur'ah dan disebut saduq oleh al-Zahabi dalam al-Kasyif ).

Maka kita boleh berdoa dengan apa sahaja doa yang kita hajati. Doa orang berpuasa makbul disebabkan jiwa yang telah dibersihkan daripada kotoran dosa dan syahwat. Justeru itu al-Munawi menyebut: ''Hadis di atas hanya untuk sesiapa yang telah menunaikan tanggungjawab puasa dengan menjaga lidah, hati dan anggota." (Faidh al-Qadir, 2/500).

Di sana ada doa yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w. ketika berbuka dan disunatkan kita membacanya: "Adalah Rasulullah s.a.w. apabila berbuka, Baginda bersabda: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah peluh (hilang kekeringan) dan telah tetaplah pahala, insya-Allah. (Riwayat Abu Daud, sanadnya hasan)
Namun setiap orang yang menunaikan puasa dengan sepenuhnya, hendaklah merebut peluang doa yang makbul ketika dia berbuka.


6. Berdoa kepada sesiapa yang menjamu kita berbuka, kata Anas r.a.: "Baginda s.a.w. pernah datang kepada (rumah) Saad bin Ubadah. Dia menghidangkan roti dan minyak. Baginda pun makan dan bersabda: Telah berbuka puasa di sisi kamu mereka yang berpuasa, telah makan makanan kamu mereka yang baik dan telah berselawat ke atas kamu para malaikat. (Riwayat Abu Daud, Diya al-Maqdisi dalam Al-Ahadith al-Mukhtarah menyatakan ia sahih 5/158). Maka berdoalah kepada mereka yang menjamu kita berbuka puasa. Ini adab yang sangat baik.
Demikian senarai adab-adab yang
terkandung di dalam sunah Nabi s.a.w. ketika berpuasa. Semoga pengamalan adab-adab ini menambahkan lagi pahala puasa kita. 


- DR. MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN, Pensyarah Universiti Sains Malaysia.

Diedit daripada UTUSAN MALAYSIA-www.utusan.com

Monday, July 2, 2012

Ustaz Ash: HUKUM BERAMAL DENGAN HADITH DA'IF


Para ulama' tidak sependapat dalam menentukan hukum beramal dengan hadith da'if yang boleh dibahagikan kepada 3 pendapat. Jika hadith palsu(mawdu') tertolak sama sekali, boleh rujuk kitab  
Sunan Sittah iaitu enam kitab hadith yang asas yang diiktiraf oleh ulama' hadith antaranya sahih 
al-Bukhari, sahih muslim, sunan nasa'I, sunan Abu Daud, sunan al-Tarmidhi dan sunan ibnu Majah.
 
Pendapat ulama' beramal dengan hadith da'if:
1) Pendapat ini dipelopori oleh ibn al-Arabi daripada mazhab Maliki, al-Bukhari, ibn Hazm, Abu Syamah al-Maqdisi dari mazhab syafi'i dan lain lagi. Menurut mereka tidak harus beramal dengan hadith da'if secara mutlak sama ada hadith tersebut berkait dengan hukum-hukum atau fada'il 
al-amal.
 
2) Pendapat diutarakan oleh al-imam Ahmad bin Hanbal, al-imam Abu Daud, ibn Taimiyyah dan 
ibn Qayyim al-Jawziyyah. Mereka berpendapat hadith da'if boleh diamalkan secara mutlak jika 
tidak ada lain-lain dalil bagi persoalan yang disentuh oleh hadith tersebut.
 
3) Pendapat ini disokong oleh antaranya al-imam al-Nawawi dan ibn Hajar al-Asqalani. Mereka
berpendapat hadith da'if boleh dijadikan hujah dengan persoalan yang berhubung dengan fada'il 
al-amal, mawa'iz, qisas, targhib dan seumpamanya. Dalam kes yang berkaitan dengan perkara 
aqidah seperti sifat-sifat Allah SWT atau pun dalam persoalan bukan halal haram, hadith da'if 
boleh diamalkan sama sekali. Ini pendapat yang muktamad menurut para ulama' muhaqqiqin 
dengan syarat-syarat tertentu. Di antara syarat-syarat beramal dengan hadith da'if menurut 
ibn Hajar 
al-Asqalani ialah:
a) Hendaklah da'if yang ada pada hadith itu tidak keterlaluan.
b) Hendaklah maksud hadith da'if itu selari dengan kaedah umum agama Islam.
c) Hendaklah tidak diiktiqadkan semasa beramal dengannya bahawa hadith itu thabit dari 
Rasulullah s.a.w. tetapi diiktiqadkan sebagai ihtiyati. Tujuannya ialah supaya kita tidak salah 
menyandarkan hadith itu kepada Rasulullah s.a.w. tentang sesuatu yang mungkin tidak disebut 
oleh baginda s.a.w.

dari sumber yang boleh dipercayai..:)

mcm menarik je ni..tekan la..